
Judul: Startup, Indonesia!
Penulis: Restituta Ajeng Arjanti & Reney Lendy Mosal
Penerbit: Kompas
Tebal: 305
“The Internet is becoming the town square for the global village of tomorrow.” ~ Bill Gates
Dewasa ini kita seringkali mendengar berita mengenai bermunculannya
startup-startup berbasis digital yang dirintis oleh anak-anak muda.
Apakah itu startup?
Startup adalah perusahaan baru atau rintisan. Mengapa disebut
berbasis digital? Karena para pengusaha muda itu menggunakan internet
sebagai platform usaha yang mereka dirikan.
Masih ingat kisah sukses Mark Zuckenberg si pendiri facebook? Atau
mungkin kepopuleran Google sebagai mesin pencari paling handal yang
digawangi oleh Larry Page dan Sergei Bin? Mereka adalah beberapa anak
muda yang mengawali bisnis atau usaha mereka yang berorientasi
teknologi.
Jika dua contoh di atas diambil dari negara belahan utara, bagaimana dengan di Indonesia?
Pernah mendengar Koprol? Koprol adalah jejaring sosial berbasis lokasi
buatan anak negeri yang digagas oleh Satya Witoelar bersama tiga orang
rekannya, yaitu Leo Laksmana dan Fajar Budiprasetyo serta Daniel
Armanto. Fitur yang ada di dalam koprol ini menarik perhatian Yahoo,
yang kemudian mengakuisisi Koprol. Keberhasilan Koprol diakuisisi
perusahaan internet Yahoo membuka peluang bagi kebangkitan
startup-startup yang ada di Indonesia. Walaupun pada April 2012 Yahoo
membubarkan Koprol. Namun demikian kisah Koprol menjadi kisah sukses dan
inspiratif dalam sejarah digital di Indonesia, di mana startup asli
Indonesia dibeli oleh raksasa internet sekelas Yahoo.
Perusahaan baru atau startup ini umumnya masih membutuhkan proses
R&D untuk mencari ceruk pasar dan target konsumennya dikarenakan
perusahaan ini masih berusia muda. Perusahaan startup juga memiliki
biaya produksi yang rendah, potensi bisnis yang menarik walapun memiliki
risiko yang tinggi.
Dan bagaimana startup bisa berkembang dan sukses mengembangkan
bisnisnya? Inilah beberapa tips yang diberikan langsung oleh para tokoh
startup yang sudah malang melintang menjajal bisnis ini, antara lain:
pilih bidang sesuai passion, mulailah dari value bukan profit, miliki
visi, mau bekerja keras, pantang menyerah, konsisten, kerja tim, fokus
pada konsumen dan lakukan pemasaran yang efektif, rajin menganalisis
pasar serta jangan abaikan kompetitor.
Kisah Koprol hanyalah sebagian kecil cerita sukses startup di
Indonesia. Masih banyak startup asli Indonesia yang didirikan oleh
anak-anak muda yang kreatif dan jeli melihat peluang yang ada dan
berkembang serta sukses. Siapa sajakah mereka? Ingin tahu? Nah, buku ini
tidak hanya mengisahkan profil para startup lokal itu, namun juga
sejarah dan perkembangan para technopreneurship; technopreneurship di
tanah air dan membahas kiat-kiat untuk menjadi technopreneurship yang
sukses, langsung dari para tokohnya.

Judul: Bumi Manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tebal: 535
Minke adalah tokoh dalam cerita ini, laki-laki jawa ningrat yang
mendapatkan pendidikan di H.B.S, sekolah yang dikhususkan untuk
anak-anak Eropa dan pribumi yang bergelar bangsawan. Pendidikan ala
Eropa yang diperolehnya menumbuhkan keinginan Minke untuk menjadi
manusia bebas dan merdeka. Pemuda priyayi ini semampu mungkin berusaha
keluar dari kepompong kebudayaan jawa yang membuatnya selalu merasa di
bawah.
“Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa
terhadap kakekku dan nenekku dan orang tuaku, waktu lebaran. Dan yang
sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya.
Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang
kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia
sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu. Hilang antusiasme para guruku
dalam menyambut hari esok yang cerah bagi umat manusia. Dan entah
berapa kali aku harus mengangkat sembah nanti. Sembah-pengagungan pada
leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! sampai
sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak cucuku tak kurelakan menjalani
kehinaan ini.” (halaman 182)
*
Suatu hari seorang kawan menantang Minke untuk mendekati seorang gadis.
Maka, bertamulah mereka ke rumah kawan Robert yang memiliki seorang adik
perempuan. Annelies, nama anak perempuan itu dan kakaknya bernama
Robert Mellema (Rob) adalah anak yang lahir tanpa ikatan pernikahan
antara ayah Eropa dan Ibu pribumi.
Ibu Anna dan Rob adalah perempuan yang dijual oleh Ayah kandungnya
sendiri kepada tuan Mellema demi mendapatkan posisi sebagai kasir.
Karena dendam dan sakit hati kepada orang tuanya, Sanikem (kemudian
kelak dikenal dengan panggilan Nyai Ontosoroh) bertekad untuk
membuktikan kepada orang tuanya bahwa apapun yang telah mereka lakukan
terhadap dirinya maka ia harus lebih berharga daripada mereka. Kalau pun
ia harus menjadi budak belian maka ia harus menjadi budak belian (Nyai)
yang sebaik-baiknya. Ia pelajari semua keinginan tuannya. Tuan mellema
adalah guru yang baik. Ia mengajari Sanikem membaca, menulis, berhitung,
dan sebagainya. Sikap tuan mellema menghadirkan rasa sayang kepada diri
Sanikem apalagi dengan kehadiran dua buah hati mereka, Ann dan Rob.
Semangat dan kemajuan belajar Nyai membuat tuan mellema mulai
memercayakan Nyai untuk membantu mengolah usahanya. Perusahaan itu
kemudian berkembang dan menjadi besar dibawah kerja keras Nyai. Sayang,
kedatangan anak tiri tuan Mellema dari istri syah mengoyak kenyamanan
keluarga kecil mereka. Dan sejak saat itu hilanglah rasa penghormatan
Nyai kepada suaminya.
Sebagai seorang Nyai, keluasan wawasan serta pemikirannya jauh
melebihi dari pribumi kebanyakan. Ia pandai berbahasa Belanda dengan
sempurna. Ia pun suka membaca. Ia mengadopsi nilai-nilai Eropa untuk
pendidikan anak-anaknya. Nyai Ontosoroh bukanlah seorang nyai biasa. Ia
belajar dan bekerja keras agar tak dipandang sebelah mata dan dihinakan
semua orang. Semua ini menimbulkan decak kagum pada diri Minke.
Pertautan Minke dengan keluarga Nyai semakin erat. Problema keluarga
Nyai menjadi bahan pengamatan bagi Minke. Di saat itu pula ia menyadari
bentuk ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ia pun mencoba melawan
melalui tulisan-tulisannya yang populer dan disukai banyak orang.
“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
**
Novel ini bercerita mengenai kehidupan bangsa Indonesia, yang pada saat
itu begitu mendewakan peradaban Eropa, karena dipandang sebagai simbol
dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban. Sementara itu
bangsa pribumi adalah bangsa yang hina dan bisa ditindas kapanpun.
Melalui tokoh Minke dan Nyai, keduanya membuktikan bahwa pribumi
mampu berdiri tegak di atas tanah airnya sendiri. Keduanya juga bahu
membahu menentang ketidakadilan. Walaupun pada akhirnya mereka harus
menyerah kalah. Namun kalah bukan berarti kesia-siaan.

Judul: Bidadari Kelab Malam
Penulis: Kristasia Pangalila
Penerbit: Grasindo, PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Tebal: 169
Mey, wanita berusia awal dua puluhan itu bekerja sebagai pemandu lagu
di sebuah karaoke. Anak perempuan pertama dari tiga bersaudara ini
tidak meneruskan sekolah karena ia harus membantu kedua orang tuanya
mencari nafkah. Pekerjaan Ayahnya sebagai kuli bangunan tidak mampu
membiayai hidup mereka sekeluarga. Untuk menambah penghasilan keluarga,
Ibu Mey juga membantu dengan membuat kue.
Bekerja di kelab malam sebagai pemandu lagu tidak mudah bagi Mey,
yang sesungguhnya tidak menyukai itu. Namun dengan ijasah SMP pekerjaan
apalagi yang bisa ia harapkan? Berbeda dengan kawan-kawannya, dandanan
Mey tidak mencolok dan cenderung tertutup dibandingkan kawan-kawannya.
Namun kecantikan Mey mampu menutupi kekurangannya dalam berpenampilan.
Lagipula Mey selalu melebihi jam target booking-annya, yang tentu saja
menyenangkan bagi Bunda, panggilan untuk manajer kelab malam tersebut.
Pelanggan yang harus ditemani Mey ketika berkaraoke memang kebanyakan
selalu mencoba untuk merayunya. Selama itu Mey selalu menolak untuk
diajak keluar oleh pelanggannya. Mey juga sebisa mungkin menghindari
bentuk kontak fisik yang berlebihan.
Di kelab malam itu juga hidup Mey berubah ketika ia bertemu dengan
laki-laki paruh baya bernama Pram. Pram sudah berkeluarga. Kedekatan Mey
dan Pram perlahan mulai menimbulkan riak-riak cinta di hati mereka
berdua.
Sementara itu, Dodi, laki-laki yang menyimpan cinta untuk Mey sejak SMP,
memutuskan untuk menyambung tali silaturahim diantara mereka berdua.
**
Saya tidak tahu apakah ini novel bergenre metropop juga atau tidak.
Kisah cinta yang rumit namun Kristasia menyajikan ceritanya begitu penuh
keceriaan khas anak muda. Buku yang ringan dengan ending yang manis.
Namun saya temui beberapa kesalahan cetak, mungkin ya? Di awal cerita
dikisahkan Mey lulusan SMP, namun di pertengahan cerita dikatakan Mey
adalah lulusan SMA. Ada juga beberapa karakter yang hilang dalam sebuah
kata.
Namun demikian terima kasih sekali lagi untuk mbak Yudith yang telah memberikan buntelan bukunya

. Ditunggu buntelan buku berikutnya mbak.. hehe.

Judul: Dramaturgi Dovima
Penulis: Faris Rachman-Hussain
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 230
Sebelumnya, terima kasih banyak ya mbak Yudith dari PT. Gramedia Pustaka untuk buntelan bukunya, juga mas Dion dari BBI

. Pada sampul belakang buku tertera label Metropop. Terus terang saya
jarang atau bahkan bisa dibilang sekali dua membaca novel metro pop.
Bahkan baru kali ini tahu ada genre metro pop. Wah, ketinggalan sekali
ya? hehe. Baiklah, saya langsung buatkan reviewnya saja ya.
Dovima adalah putri tunggal wartawan senior Seruni di sebuah majalah
terkemuka. Lahir sebagai putri yang tidak diinginkan kehadirannya oleh
sang Ibu, Dovima tumbuh menjadi anak penyendiri dan keras hati. Sang
Ibu, Seruni yang mencintai pekerjaannya lebih dari apapun saat itu tak
mampu membantah keinginan suami yang dicintainya untuk memiliki anak.
Walaupun kemudian pernikahan Seruni dengan Gandhi Wirasetja berakhir di
tengah jalan.
Dovima menghabiskan masa kecilnya di New York bersama Ibu yang
bekerja sebagai kolumnis Time Asia. Hari-hari bersama Ibu adalah
kenangan yang menyesakkan dan tidak ingin diingatnya. Meninggalkan
Ibunya, Dovima melanjutkan kuliah di Universitas Padjajaran Fakultas
Komunikasi Jurusan Jurnalistik. Lulus dari sana Dovima diterima sebagai
calon reporter di tempat Ibunya dahulu bekerja, Majalah Kala. Tak lama
ia bekerja, Ibunya kembali ke Indonesia untuk mengabarkan bahwa dirinya
menderita sakit alzheimer. Sejak saat itu sang Ibu memutuskan untuk
menetap tinggal di Indonesia, di rumah mereka dahulu.
Dalam sebuah liputan konferensi pers Nagri PLC, Dovima yang bertugas
sebagai reporter tanpa sengaja mengumbar informasi off the record dari
majalahnya disebabkan kekesalannya menghadapi pengusaha muda, Kafka.
Karena itu sebagai hukuman Dovima kemudian dipindahkan ke desk gaya
hidup. Menjadi reporter desk gaya hidup adalah hal yang paling tidak
disukainya. Ia menganggap reporter desk gaya hidup hanyalah pencinta
kesenangan dengan orientasi dan pemujaan total terhadap kehidupan
hedonis yang kosong (halaman 42).
Namun tanpa disangka, tugas singkatnya di sana justru menjadi perekat
hubungannya dengan pengusaha muda, Kafka yang semula dibencinya. Di
tempat lain, Madji, orang nomor dua di majalah itu, diam-diam menyukai
Dovima, gadis cerdas, cantik sekaligus aneh. Lepas dari hukuman Dovima
kembali bertugas di desk ekonomi. Tugas peliputan Dovima berikutnya
mempertemukan ia dengan Ayah kandungnya. Bukan tanpa sebab ketika ia
akhirnya memilih pergi dan mundur dari perkara korupsi yang melibatkan
kekasihnya, Kafka serta Ayah kandungnya.
**
Novel ini berkisah tentang kaum urban dengan kehidupan hedonnya. Tidak
ringan tapi tidak berat juga. Penggambaran untuk kasus-kasus korupsi
yang dikisahkan cukup detil dan menarik. Novel yang bisa dijadikan
pilihan untuk menemani Anda yang ingin melepaskan kepenatan dari
rutinitas kerja. Bisa dibaca di angkutan publik atau di jam istirahat
kantor. Barangkali yang membuat buku ini berbeda dengan novel sejenisnya
adalah pilihan kosa katanya lebih kaya.
Kutipan-kutipan Pramoedya yang saya suka. Sebagian besar dikutip dari buku Bumi Manusia.
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia
akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah
bekerja untuk keabadian.”
“Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang
tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal
sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan
untuknya.”
“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau
menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh,
jauh di kemudian hari.”
“Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.”
“Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini.”
“Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya
“Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas.”
“Kau terpelajar, cobalah bersetia pada katahati.”
“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar
kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya
hewan yang pandai.”
“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena
usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” ~ Bumi
Manusia, halaman 59

Judul: Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 236
“.. tentang air yang harus menjadi ricik dan cakrawala yang harus menebas jarak agar dapat mencintai…” (halaman 127)
Ia dan pria itu akhirnya sering bertemu. Di bawah tempias hujan dan
sajak puisi Sapardi Djoko Damono yang dibacakan oleh sang pria, si tokoh
utama dalam buku ini, seorang wanita paruh baya, menyadari bahwa
dirinya mulai menyukai si lelaki seniman dihadapannya.
Novel ini berkisah tentang surat-surat panjang yang dikirimkan oleh
si wanita untuk seorang sahabat istimewa di masa kecilnya, laki-laki
yang ia pilih sejak pertama kali mereka bertemu. Surat-surat itu
ditulisnya setelah ia menerima undangan pernikahan si lelaki. Si wanita
pun dengan gamblang mengungkapkan perasaannya atas pernikahan sahabatnya
itu.
“Berpuluh tahun lamanya, bahkan sejak kali pertama bertemu, aku telah
memilihmu dalam setiap doaku. Sesuatu yang tak pernah kau ketahui bahkan
hingga hari ini. Dan bila kau suruh aku pergi begitu saja, di usiaku
yang lebih dari empat puluh ini, aku mungkin telah terlambat untuk
mencari penggantimu.” (halaman 19)
Untuk menenangkan hati, si wanita kemudian memutuskan untuk cuti dan
menapak tilas masa kecilnya di Bali. Di kampung halaman Ayah yang
dicintainya, ia melepaskan rindu pada segala kenangan getir masa kecil.
Walau ia tak memercayai adanya kehidupan setelah kematian namun ia
meyakini bahwa bekas-bekas kehidupan ayahnya telah menyatu dengan
lautan. Ia dapat menemukan ayahnya di pantai manapun.
Kembali ke Jakarta ia kemudian dijodohkan oleh seorang kawannya.
Laki-laki yang kemudian mengisi hari-harinya, laki-laki yang melafalkan
puisi Sajak Kecil tentang Cinta karya Sapardi di bawah rintik hujan.
Walaupun sinopsis dan mungkin review di atas sedikit seperti sebuah
kisah roman yang mendayu-dayu, sebenarnya isi novel ini jauh dari
percintaan yang serupa itu. Sejujurnya saya membeli novel ini karena
nama penulisnya. Saya memang tidak mengenal Dewi secara mendalam, tapi
kami beberapa kali pernah saling berkomentar di sosial media facebook.
Bagi saya Dewi adalah perempuan yang berbeda dari kebanyakan perempuan
lain seusianya. Saya mengagumi pemikirannya. Dan iya, saya berharap
banyak dari novel yang ia tulis. Seperti perkiraan saya, saya yakin ini
bukan sekedar novel roman biasa. Tebakan saya tidak jauh meleset

.
Saya suka adegan di Surat ke-14. Bermain-main apakah hanya untuk
anak-anak? Banyak orang dewasa salah mengartikan makna kedewasaan.
Seperti Exupery bilang, orang dewasa seringkali membosankan. Mereka
merasa harus selalu serius, dan keseriusan dimaknai oleh parameter yang
mereka bikin sendiri. Ada kalanya dalam hidup kita tidak memerlukan
penjelasan apa-apa, cukup merasakan dengan hati, dan itu digambarkan
oleh Dewi dalam kekonyolan dan kegilaan yang dilakukan oleh kedua tokoh
di atas.
Walau novel ini sedikit muram dan bahkan pedar, mengingat kesepian
dan keterasingan yang dimiliki si tokoh. Namun saya memandang kesunyian
itu sebagai akibat dari pemikiran si tokoh yang tidak bisa diam.
Secara keseluruhan saya betah membaca novel ini. Saya salut dengan
cara Dewi mengumpulkan data dan mengolahnya dengan apik, detil sekali.
Keren, Dew
Ditunggu karya-karya selanjutnya

Judul: Pride and Prejudice
Penulis: Jane Austen
Penerjemah: Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit: Qanita – Mizan
Tebal: 421 (versi ebook)
“Seorang filsuf sejati akan menghibur diri dengan memanfaatkan apa pun yang tersedia.” – halaman 260
Elizabeth Bennet adalah anak kedua dari lima anak perempuan keluarga
Bennet, seorang bangsawan miskin di Meryton, England. Kekayaan Ayah
Elizabeth, Mr. Bennet, nyaris sepenuhnya tergantung pada tanah warisan
senilai dua ribu setahun. Namun tanah itu menjadi hak waris seorang
saudara jauh laki-laki. Hal ini merisaukan Ibu mereka, karena jika Ayah
mereka meninggal maka Ibu dan anak itu akan kehilangan tempat tinggal
dan pendapatan.
Kakak Elizabeth, Jane, mempunyai pribadi hangat dan cenderung menutup
diri. Ia tidak pernah menampakkan perasaan yang sesungguhnya dihadapan
banyak orang. Namun Jane dan Elizabeth memiliki sifat ceria, santun, dan
berwawasan. Berbeda dengan ketiga adik mereka yang sedikit liar, dan
lebih mengutamakan kecantikan.
Ibu mereka adalah wanita dengan pemahaman sekadarnya, berpengetahuan
sempit, dan bertemperamen angin-anginan. Ketika keinginannya tidak
terpenuhi, dia akan merasa gelisah. Tujuan hidupnya adalah menikahkan
anak-anak perempuannya; kesenangannya adalah bertamu dan bergunjing.
(halaman 14). Sementara Mr. Bennet, sang Ayah, memiliki sifat acuh tak
acuh, memiliki humor sinis terutama kesukaannya mengolok-olok istrinya
di depan putri-putri mereka. Ia mencintai pedesaan dan buku. Keduanya
adalah sumber utama kesenangannya, terlebih setelah ia merasa kecewa
terhadap pernikahannya. Mrs. Bennet adalah wanita cantik yang kemudaan
dan keceriaannya menarik hati Mr. Bennet. Sayang, kebebalan dan
kepicikan wanita itu menghilangkan kasih sayang sejati di usia
pernikahan mereka yang dini. Rasa hormat, kekaguman, dan kepercayaan pun
lenyap untuk selamanya, dan seluruh pandangannya akan kebahagiaan rumah
tangga pun turut melayang. (hal 260).
Suatu hari, sebuah keluarga bangsawan kaya menyewa rumah di dekat
tempat tinggal mereka. Mr. Bingley diterima baik oleh masyarakat
setempat. Sebaliknya, rekan Mr. Bingley, yaitu Mr. Darcy agak kurang
disukai oleh karena sifatnya yang angkuh dan memandang rendah kepada
keluarga Elizabeth. Pada sebuah pesta, kedekatan Jane dengan Mr. Bingley
kemudian berkembang menjadi isu bahwa mereka akan bertunangan.
Sayangnya, pertunangan itu gagal.
Kelak diketahui batalnya pertunangan Jane dan Mr. Bingley tidak luput
dari pengaruh yang dilancarkan Mr. Darcy kepada Mr. Bingley. Mengetahui
hal ini memercikkan kebencian kepada diri Elizabeth terhadap Darcy,
pria yang diam-diam ternyata menyimpan rasa cinta untuknya. Sementara
itu, Elizabeth berkenalan dengan Wickham, pemuda putra dari pelayan Ayah
Mr. Darcy yang sudah dianggap seperti anak sendiri. Namun rupanya
Wickham tidak menyukai Darcy dan ia menyebarkan kabar bohong yang
membuat Elizabeth semakin tidak menyukai Darcy.
Sementara itu adik Elizabeth, Kitty dan Lydia masih dengan kegemaran
mereka mengejar prajurit-prajurit yang ditugaskan di Meryton. Elizabeth
merasa kesal atas perilaku adik-adik dan Ibunya. Namun ia tak mampu
berbuat banyak.
Adegan cerita berganti kepada kedatangan Mr. Collins, pewaris tanah
milik Ayah Elizabeth. Setelah gagal melamar Elizabeth ia mengalihkan
lamarannya kepada rekan baik Elizabeth, yaitu Charlotte. Mereka menikah
dan pindah ke Rosing Park, di daerah dekat kediaman bibi Mr. Darcy
tinggal. Elizabeth suatu waktu ke Rosing Park untuk menemui sahabatnya,
Charlotte. Di sana ia kemudian bertemu Darcy kembali. Pada saat itu
Darcy mengungkapkan perasaannya dan bermaksud melamar Elizabeth, yang
ditolak oleh Elizabeth, karena ia membenci Darcy. Sebaliknya, Elizabeth
meminta penjelasan Darcy atas gagalnya pertunangan Jane dengan Bingley
serta perbuatan jahatnya terhadap Wickham. Menurut Darcy, Jane adalah
gadis yang ramah. Namun keseluruhan sikap Jane tidak menunjukkan bahwa
ia menyukai Mr. Bingley. Selain itu, perilaku Ibu Elizabeth yang
berharap Mr. Bingley menikahi anak perempuannya demi meningkatkan status
sosial keluarga itu membuat Darcy risih sehingga ia terpaksa
mempengaruhi sahabatnya untuk membatalkan niatnya melamar Jane.
Elizabeth merasa malu mendengar penjelasan Darcy. Namun ia tak menampik
kebenaran atas pengakuan Mr. Darcy megenai Ibu dan adik-adiknya. Dan
mengenai Wickham, Elizabeth tidak mau mempercayai omongan Darcy begitu
saja walaupun beberapa pengamatan membuktikan bahwa Darcy tidak
berbohong.
Beberapa bulan kemudian ketika Elizabeth bersama paman dan bibinya
pergi ke Derbyshire, mereka mengunjungi Pemberly, rumah kediaman Darcy.
Elizabeth awalnya tidak menyetujui rencana itu namun berbalik ketika
mengetahui Darcy sedang berada di luar kota. Namun tak disangka, ketika
mereka keluar dari rumah, Darcy melihat kedatangan mereka. Keduanya
merasa canggung, namun sikap Darcy yang baik dan penuh perhatian kepada
paman dan bibinya menyentuh hatinya.
Bagaimana akhir cerita ini? Barangkali mudah ditebak bahwa Elizabeth
menerima lamaran yang diajukan Darcy kembali. Dan Jane serta Bingley
akhirnya menikah.
Jane Austen si penulis buku ini menceritakan kehidupan masyarakat
Eropa di sekitaran tahun 1813. Saat itu banyak masyarakat memiliki pola
jalan instan demi meningkatkan status sosial mereka. Kebodohan dan
sempitnya cara berpikir membuat mereka tak lagi segan melakukan
keculasan. Kaum wanita bertingkah liar, memamerkan kegenitan dan
kecantikannya untuk memikat lelaki kaya. Para lelaki mendekati perempuan
kaya untuk mengeruk harta mereka.
Membaca buku ini melemparkan saya kepada kenyataan yang sedang
terjadi di negeri tercinta ini. Setiap saat saya membacai berita
gadis-gadis muda, cantik, dan ceria yang memasrahkan tubuh mereka ke
pelukan laki-laki kaya demi meningkatkan status sosial mereka di
masyarakat atau demi beberapa rupiah.
Apakah negeri ini sedang bergerak ke masa kegelapan?
Semoga tidak.

Judul: The Kreutzer Sonata
Penulis: Leo Tolstoy
Penerjemah: Ermelinda
Penerbit: Selasar
Tebal: 200
Betul kata Melisa, blog resensi bukunya bisa dilihat di
sini,
tuntas membaca buku The Kreutzer mendadak kehilangan minat untuk
meresensi karya Leo Tolstoy yang satu ini. Tapi karena saya sudah
berjanji kepada diri sendiri maka saya coba membuat reviewnya.
Pozdynsev, -nama tokoh utama- dan kakak lelakinya adalah pemuda yang
lugu. Ketertarikan seksual kepada lawan jenis adalah hal yang cukup
mengganggu bagi anak-anak muda seusia itu. Pada suatu sore usai kumpul
sambil bermain kartu dan minum vodka, salah satu kawan kakaknya mengajak
mereka ke tempat-tempat tertentu. Seperti anak lelaki muda lainnya, ia
mengikuti tanpa memahami apa yang ia lakukan. Kegiatan itu kemudian
menjadi hal yang biasa, karena tak ada orang dewasa disekelilingnya yang
menyalahkan apa yang ia lakukan. Sebaliknya, masyarakat lingkungan ia
berada menganggap hal itu sebagai kebaikan jasmani yang sah atau
pengalihan yang alami secara menyeluruh bagi seorang anak muda yang
bukan hanya bisa dimaafkan, tapi bahkan tak bersalah. Pozdnysev semakin
jatuh karena ketidaktahuannya.
Sampai suatu ketika ia menyadari bahwa hubungannya dengan para wanita telah rusak selamanya. Ia memutuskan untuk berhenti.
“Jadi seorang pria yang telah berhubungan dengan beberapa wanita demi
kesenangan bukan lagi orang normal, tapi orang yang rusak selamanya.”
(halaman 132)
“Seorang pezina bisa saja menahan diri, berjuang mengendalikan diri,
tapi hubungannya dengan wanita tak pernah lagi sederhana, murni, jernih,
seperti hubungan saudara lelaki dengan saudara perempuan.” (halaman
132)
Pozdynsev kemudian menikah. Namun pengalaman masa lalunya memberi ia
cara pandang yang berbeda mengenai perkawinan. Walaupun sepanjang
perkawinan mereka, Pozdynsev tidak pernah berseligkuh, namun ia memiliki
bayangan kecemburuan sendiri yang berlebihan.
Buku ini berkisah tentang pengakuan seorang laki-laki yang karena kecemburuannya membunuh istrinya sendiri.
Tolstoy memang penulis yang piawai. Pembaca bisa larut dalam
kebencian terhadap si tokoh utama yang pandangannya mengenai perkawinan
sangat vulgar. Agak khawatir juga menuliskannya di sini

. Namun inti cerita ini seperti disinggung di bagian kata pengantar,
Tolstoy menuliskan cerita ini berdasarkan pengalaman ia dan istrinya
untuk menciptakan ‘gugatan’ terhadap perkawinan yang menyakitkan hati.
Tolstoy menggambarkan bahwa pernikahan kemudian bisa membuat
masing-masing pasangan merasa terjebak. Jika situasi itu tidak disadari
dan dipahami maka mereka akan saling membenci.
“tapi cinta dan kebencian ini hanya dua sisi mata uang yang sama, perasaan hewani yang sama.” (halaman 105)
“Hidup seperti itu akan tak tertahankan kalau kita saling memahami
situasinya. Tapi kami tak memahaminya, bahkan tak menyadarinya. Itu
keselamatan sekaligus hukuman terhadap manusia yang ketika menjalani
hidup tak beraturan, mereka akan membungkus diri dalam selimut kabut
sehingga tak bisa melihat buruknya situasi.” (halaman 105).
Walaupun memang membaca buku ini menimbulkan kesebalan luar biasa
kepada si tokoh utama, bahkan membuat mual di bagian akhir, tapi saya
mengakui bahwa dalam banyak hal buku ini kaya dengan pemikiran yang
realistik.

Judul: Misi Apollo 13
Penulis: Donald B. Lemke
Ilustrasi: Keith Tucker
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: 27
Misi Apollo 13 ini adalah buku komik berwarna. Berkisah tentang
bencana-bencana besar yang pernah terjadi. Selain bencana misi Apollo
13, ada juga Pandemik Flu di tahun 1918 serta Gempa Bumi Besar dan
Kebakaran Hebat San Fransisco.
Kisah pertama mengenai misi Apollo 13, yang diluncurkan pada tanggal
11 April 1970, setahun setelah NASA berhasil mendaratkan awak Apollo 11
di bulan disusul dengan Apollo 12 yang juga berhasil melakukan hal yang
sama empat bulan setelah keberhasilan Apollo 11.
Sebagai pemimpin awak dalam modul perintah Odyssey dari Apollo 13 ini
adalah komandan Jim Lovell. Sebelum sampai ke bulan, awak Apollo 13
mendapati masalah adanya kebocoran oksigen di kabin pesawat. Para tim di
bumi berupaya memikirkan langkah penyelamatan untuk membawa pulang para
astronaut. Pusat kendali misi memerintahkan awak pesawat untuk
mematikan modul perintah Odyssey dan pindah ke modul bulan Aquarius.
Para awak akan menggunakan Aquarius sebagai semacam perahu penyelamat.
Cadangan oksigen dan tenanganya yang cukup akan membuat mereka tetap
hidup. Para astronaut harus berhemat, karena itu mereka menjaga agar
air, oksigen, dan tenaga pesawat itu cukup. Namun dengan menurunnya
tenaga Odyssey, suhu di dalam pesawat turun drastis 58 derajat.
Astronaut harus mempercepat pesawat untuk pulang sebelum tenaganya
habis. Sementara itu karbondioksida yang berasal dari napas para
astronaut telah memenuhi seisi Aquarius. Dengan cepat, pesawat akan
berisi racun. Tim di Pusat Kendali Misi menemukan suatu cara untuk
menggunakan jaringan Odyssey dalam aquarius sehingga tingkat
karbondioksida menurun. Dengan demikian mereka bisa melakukan kegiatan
untuk tetap merasa hangat. Suhu di dalam pesawat turun sampai 38
derajat.
17 April pukul 12.07, setelah melakukan perjalanan pulang yang
panjang dan mendebarkan, modul perintah Odyssey mendarat di Samudra
Pasifik. Misi Apollo 13 dikenal dengan kegagalan yang berhasil. Gagal
mendarat di bulan, tapi mereka berhasil membawa kembali pesawat yang
rusak beserta awaknya kembali ke bumi.
Selanjutnya, NASA memperbaiki masalah yang ditemukan pada Apollo 13 dan menyelesaikan empat misi lagi ke bulan.
Kisah kedua adalah mengenai ancaman penyakit yang mematikan, menyebar
di kalangan tentara yang saat itu sedang bertempur dalam Perang Dunia I
(1914-1918). Penyakit ini kemudian menyebar di seluruh Eropa, Afrika,
Asia, Pasifik Selatan dan Amerika Utara dan Selatan. Penyakit ini
awalnya merupakan endemi tapi kemudian menjadi pandemik di seluruh
dunia. Para ilmuwan dan dokter berusaha mencari penyebab serta
penanggulangan penyakit yang akhirnya mematikan ini, namun belum
berhasil. Banyak penderita meninggal karena flu itu kemudian berkembang
menjadi radang paru-paru. Sekolah, pasar, dan tempat-tempat berkumpulnya
orang banyak ditutup karena penyebaran flu tersebut. Di akhir musim
gugur tahun 1918, dokter di seluruh dunia melaporkan berkurangnya kasus
penyakit flu tersebut. Bulan November bertepatan dengan berakhirnya
Perang Dunia I, flu yang mematikan itu tampaknya menghilang.
Kasus flu terakhir yang ditangani adalah pada akhir tahun 1919.
Sampai saat ini para ilmwan belum berhasil mengungkapkan virus yang
menyebabkan flu 1918 tersebut. Mereka baru sampai pada tahap pengertian
mengapa penyebaran flu itu mematikan.
Bencana berikutnya adalah yang terjadi di San Fransisco. Dulu, San
Fransisco merupakan sebuah pelabuhan kecil dengan penduduk kurang dari
1.000 orang. Namun penemuan emas di dekat pelabuhan itu mengubah sejarah
kota ini. San Fransisco kemudian tumbuh menjadi kota yang gemerlap
dengan 50.000 penduduk. San Fransisco tumbuh menjadi kota terbesar di
bagian barat Sungai Mississippi.
Dari tahun 1849 sampai 1851, enam kebakaran besar melanda San
Fransisco. Disusul oleh kebakaran di tahun-tahun berikutnya. Namun
setiap kali terbakar penduduknya akan membangun kembali kota mereka.
Kota ini terletak di sepanjang San Andreas Fault (Patahan San Andreas)
maka beberapa kali gempa dengan skala kecil maupun besar melanda kota
ini. Yang terbesar gempa bumi dan kebakaran hebat yang terjadi di tahun
1906. Dengan sekitar 250.000 penduduk, mereka membangun kembali kota itu
dibantu oleh para pemimpin kota dan negara, karena San Fransisco
merupakan pusat bisnis yang penting. Tahun 1915 pembangunan kembali kota
telah selesai. San FRansisco muncul dengan wajah barunya. Kota itu juga
kemudian menjadi tuan rumah pameran tingkat dunia bernama Panama
Pacific International Exposition. San Fransisco tumbuh menjadi kota
berkelas di dunia. Beberapa kali gempa kecil dan besar pernah mampir
kembali di kota ini, namun tidak sedahsyat di tahun 1906.
Pesan moral dari buku ini adalah barangkali mengingatkan kita bahwa
bencana bisa datang kapan saja dan dimanapun. Dan dibutuhkan perjuangan,
semangat serta penyatuan tenaga dan pikiran bersama untuk menghadapi
ketika bencana itu datang menimpa, karena bukankah Tuhan menjanjikan
bahwa harapan itu selalu ada?

Judul: Jalan Menikung
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: PT Pustaka Utama Gravity
Tebal: 184
“Merantau itu pergi jauh. Kadang-Kadang jauh, jauh sekali.
Kadang-Kadang rasanya sewaktu-waktu akan dapat kembali. Rasanya. Padahal
jalan yang telah dilalui dan akan ditempuh begitu banyak menikung. Kita
akan terus merantau. Bagaimanapun, jalan akan terus menikung…”
Konon, Jalan Menikung ini adalah sambungan dari buku Para Priyayi
yang bercerita tentang keluarga besar Sastrodarsono dari Wanagalih. Di
buku ini kisah keluarga Sastrodarsono berlanjut dengan kehidupan
Harimurti dan Sulistianingsih bersama putra tunggal mereka, Eko yang
belajar di Sunnybrook College, Connecticut, Amerika Serikat.
Suatu saat Harimurti mendapat undangan makan siang dari bos-nya.
Mesipun terasa aneh, toh Harimurti datang memenuhi ajakan itu. Seperti
telah diduga, ternyata pemimpin perusahaan tempat nya bekerja meminta
kesukarelaan Harimurti untuk keluar dari pekerjaannya. Alasannya, ia
tidak bersih diri alias pernah terlibat G30S/PKI. Harimurti tak mengerti
mengapa kasusnya bertahun-tahun lampau masih dipermasalahkan. Padahal
telah bertahun-tahun lamanya ia dibebaskan dari penjara.
“Begitu lengketkah praduga manusia sampai sekian lama?” (halaman 110)
“… tapi rupanya manusia hidup terus menggendong sentimennya.” (halaman 110)
Harimurti teringat putra nya, Eko, yang sebentar lagi selesai
kuliahnya dan bercita-cita untuk pulang dan mengabdi untuk negerinya.
Cita-cita luhur. Namun peristiwa yang menimpa diri nya membuat ia harus
menghalangi niat Eko untuk pulang ke tanah air. Eko kemudian bekerja dan
bahkan menikahi wanita Amerika berkebangsaan Yahudi.
Harimurti dan Sulistianingsih digambarkan sebagai pasangan sederhana
dan masih menggenggam budaya leluhur. Namun demikian mereka adalah sosok
yang bisa menerima perbedaan. Sebaliknya dengan Tommy dan Jeannete,
saudara ipar Harimurti. Penampilan mereka yang mewah dan kekinian tidak
diimbangi dengan cara berpikir yang terbuka. Perbedaan ras menjadi salah
satu penolakan Tommy menikahkan putrinya dengan Boy, putra Cina dari
mitra bisnisnya.
Kisah di buku ini sedikit banyak ingin menyentil bagaimana terkadang
kita sendiri masih berpikiran rasis. Dan diskriminasi di belahan dunia
mana pun masih saja ada.